Halaman

Kamis, 01 November 2018

Keluarga Tak Sedarah (1)

Tampak sebuah gerbang biru yang tinggi dan besar itu terbuka lebar, terlihat di dalam gerbang ada sejumlah kerumunan seseorang bersama anak-anaknya dengan membawa tas yang besar. Seolah-olah mereka akan tinggal di bangunan itu, lalu satu-persatu mereka mulai berpencar bersama anak-anak mereka masuk ke dalam ruangan yang berbeda-beda. “Nak kamu yang nurut ya di sini, jangan merepotkan orang-orang yang ada di sekitar mu, belajarlah mandiri nak ya” ujar salah seorang ibu. “Iya Bu, Siti akan belajar mandiri di sini, Ibu jangan khawatir” jawab anak itu. “Ya sudah, kalau begitu Ibu pulang nak ya, kamu tunggu di sini saja, nanti ada kakak-kakak dari pondok ini yang akan mengatur semua kegiatanmu”. “Iya Bu, Siti antar ke depan gerbang ya” jawab Siti.


“Ibu pulang dulu ya nak, jaga dirimu baik-baik dan belajar yang rajin ya" (sambil memeluk Siti). “Iya Bu” jawab Siti. “Assalammualaikum” ujar Ibu sambil melepas pelukannya dengan perasaan yang sedikit tak tega melepas anaknya untuk menjalani kehidupan yang berbeda dari sebelumnya sebagai seorang santri baru. “Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan Bu” jawab Siti sambil mencium tangan ibunya.

Setelah itu Siti kembali ke asramanya, sesaat baru berjalan beberapa langkah, Siti mendengar ada suara tangisan. “Huhuhuuu…, aku gak mau di sini Bi, aku ingin di rumah aja sama Abi” ujar anak itu sambil memeluk Abinya dengan menangis tersedu-sedu. “Adek..., Abi membawamu ke sini agar kamu bisa belajar agama, Adek ingin kan Bunda bahagia di sana karena melihat Adek belajar agama” jawab Ayah dari anak itu. “Iya Bi” jawab anak itu dengan  nada tersedu-sedu. Lalu Siti menghampiri anak itu seraya berkata, “Permisi Om” ujar Siti. “Oh iya, loh ini ada temanya Adek” ucap Ayah dari anak itu sembari meyakinkan putri tunggalnya itu. “Hai, kamu jangan sedih di sini banyak temannya kok, aku juga santri baru di sini” ucap Siti dengam tersenyum menatap wajah anak itu. Anak itu terdiam dari tangisan nya sambil melihat Siti, “Kenalin namaku Siti, namamu siapa?” ucap Siti sambil menyodorkan tangannya dengan maksud mengajaknya bersalaman. “Na..., nama ku Nu.. ril (sambil mengangkat tanganya untuk bersalaman)” jawab anak itu dengan nada terputus-putus. Lalu Ayahnya tersenyum dan berusaha meyakinkan putrinya lagi, “Sekarang Adek punya teman kan, gak apa-apa ya abi tinggal pulang sekarang, lihat tuh teman-teman baru adek, orang tuanya sudah pada pulang semua, dan tenang aja, Abi sudah konfirmasi ke pengurus pondok agar segera menghubungi Abi kalau Adek perlu sesuatu” ucap Abi sambil tersenyum. “Iya Abi, tapi Abi harus jenguk Nuril setiap minggu ya” ujar Nuril sambil mengusap sisa air matanya. “Iya nak, pasti Abi jengukin kamu, ya sudah kalu gitu Abi pulang ya, Assalammualaikum”. “Wa'alaikummsalam (mencium tangan Abi)” ucap Nuril. Lalu mereka berdua bersama kembali ke asrama putri, dan satu persatu orang tua dari para santri-santri baru mulai bergegas pulang setelah mereka mengantarkan putri-putrinya ke asrama.

Bersambung..., 😀.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

utamakan kesopanan dan berkomentarlah yang membangun ;-)