Kamis, 01 November 2018
Keluarga Tak Sedarah (3)
“Adik-adik, silahkan kalian rapikan baju-baju kalian dan taruh di dalam almari itu ya, di pintu almari itu sudah tercantum nama kalian masing-masing, jadi kalian bisa langsung memasukannya” ucap kak Risa sambil duduk dan membawa sebuah lembaran kertas. “Iya kak” jawab serentak santri-santri yang ada di kamar itu. “Maaf kak, nama saya kok gak ada ya di pintu almari itu?” tanya salah seorang santri sambil kebingungan. “Oh ya? Nama kamu siapa?” tanya kak Risa. “Nama saya Zila kak”. “Ehhmmm, ya sudah kalau gitu, kamu pakai almari no 5 pojok sendiri itu ya, yang belum ada namanya itu” jawab kak Risa. “Iya kak” jawab Zila dengan ekspresi muka datar.
“Adik-adik, di kertas lembaran ini sudah tercantum jadwal kegiatan kalian sehari-hari ya, dari mulai bangun tidur, sholat, diniyah pagi, piket ndalem (sebutan untuk rumah pak Yai dan bu Nyai pemilik ponpes), lalu sekolah dan lain-lain sampai menjelang tidur malam” ujar kak Risa dengan nada suara yang sangat lembut di dengar. Lalu tiba-tiba terdengar suara tangisan dari pojok kamar, “Hu.. hu.. hu..”, kak Risa langsung menghampirinya, “Loh adik kenapa kok nangis?” tanya kak Risa. “Saya kangen sama Ibu dan Ayah saya, saya pingin pulang (dengan nada suara yang terbata-bata)”. “Ohh, jadi gitu, iya gak papa, itu wajar kok, emang gitu, kakak dulu waktu pertama kali mondok juga gitu, sering nangis karena kangen orang tua kakak di rumah, tapi lama-lama pasti betah kok karna di sini banyak temannya, jadi jangan sedih ya” ucap kak Risa dengan mengelus-ngelus pundak anak itu. “I..., iya kak...” jawab anak itu dengan suara pelan. “Ya sudah jangan sedih lagi ya, kan ada kak Risa dan teman-teman yang bersama adik di sini, iya kan adik-adik (tanya kak Risa pada santri-santri)?”. “Iya kak” jawab semua santri yang ada di kamar.
Jam sudah menunjukan pukul 11.30, semua santri bergegas mengambil wudhu untuk melaksanakan Sholat Dhuhur. “Sitii……” teriak Nuril dengan maksud memanggil. Siti pun kaget dan langsung melihat ke arah sumber suara, “Haii, ternyata kamu Ril (sambil tersenyum)” jawab Siti. Mereka berbincang-bincang sambil menunggu antrian wudhu. Tak terasa sudah giliran mereka, sehingga mereka pun bergegas wudhu dan menuju musolah. Setelah Sholat Dhuhur, mereka langsung bergegas kembali ke asrama masing-masing untuk istirahat siang.
Jam menunjukan pukul 16.00, kelas Diniyah tampak sepi meski semua santri berkumpul di situ, mungkin karena mereka belum saling mengenal. Tiba-tiba, ada sesosok laki-laki yang datang dengan memakai sarung hijau dan berbaju koko berwarna putih serta di tambah peci hitam yang membuatnya terlihat berwibawa. Yah, beliau adalah ustad di ponpes ini. “Assalammualaikum wr.wb., pasti belum kenal saya ya” tanya ustad sambil tersenyum. “Beluumm…” jawab para santri. “Kalau gitu perkenalkan, nama saya, Muhammad Fahri, saya di sini mengajar tajwid, kebetulan saya tinggal di dekat ponpes ini. Ehmmm..., saya sudah memperkenalkan diri, jadi sekarang saya minta gantian kalian yang memperkenal diri ya. Apakah kalian semua di sini sudah saling mengenal satu sama lain?”. “Beluummm” jawab mereka. Lalu satu persatu mereka memperkenalkan diri. Setelah itu proses belajar mengajar di hari pertama mereka berjalan dengan lancar dan kondusif.
Setelah mereka selesai Diniyah, dan hari sudah petang menjelang sholat Maghrib, mereka langsung bergegas mengambil wudhu untuk segera melaksanakan sholat Maghrib. Saat Siti dan teman-teman yang lain menuju ke kamarnya untuk mengambil mukena, tiba-tiba mereka melihat Rina yang sedang duduk di pojokan kamar sambil menangis. Merekapun langsung menghampiri nya, “Sudah jangan menangis Rina, kita di sini akan menemani kamu kok (sambil mengelus-ngelus punggung Rina)” ucap salah satu santri. “Iya Rin, sudah jangan sedih lagi, ayo kita sholat Maghrib dulu, biar hati kamu tenang” ucap Siti. “I.., Iya” jawab Rina singkat sambil mengusap air matanya dan bergegas mengambil wudhu, lalu mereka berangkat ke musollah bersama-sama, sementara di lain tempat, ada Zila yang telah berangkat dulu ke musollah sejak tadi saat teman-temannya sedang menenangkan Rina yang sedang menangis karena rindu keluarganya. “Tukang drama nih, dikit-dikit nangis, suka banget cari perhatian” ujar Zila sambil ngedumel sendiri di dalam hati.
Bersambung..., 😀.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
BalasHapusSistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
Link Alternatif :
arena-domino.club
arena-domino.vip
100% Memuaskan ^-^