1 Minggu Kemudian.
Hari ini adalah hari yang sangat
di tunggu-tunggu bagi semua santri yaitu hari minggu, dimana orang tua mereka
semua datang untuk menjenguk. Jam masih menunjukan pukul 07.00
semua santri sibuk untuk bersih-bersih, sebagian mereka ada yang sedang membersihkan
toilet, ada juga yang sedang membantu masak di dapur, menyapu halaman dan
juga membersihkan ndalem (rumah pemilik ponpes), semua mereka lakukan dengan hati
gembira karena sebentar lagi orang tua mereka akan datang untuk bertemu.
Semua pekerjaan mereka lakukan dengan ikhlas tanpa ada rasa iri karena semua itu sudah di
atur khusus oleh pengurus pondok tentang jadwal mereka bersih-bersih di area
ponpes ini, jadi setiap hari mereka membersihkan tempat yang berbeda-beda, tidak
hanya toilet saja setiap hari tapi melainkan yang lainya juga pasti mereka
kerjakan setiap hari secara bergiliran. “Huufftttt segar bingitt, selesai masak
terus mandi dehh sekarang tinggal menunggu ayah sama ibu datang” curhat rina
sambil ngeringkan rambutnya dengan handuk. “Ciee senang amat” ucap salah satu
teman sekamar rina dan siti. “Ohh ya siti mana kok gak kelihatan dari tadi”
tanya rina kepada teman-teman nya. “Dia masih mandi mungkin". "Ahh masak sihh? Perasaan tadi aku gak lihat siti lagi ngantri kamar mandi dehh. Oh iya
teman-teman aku tadi waktu ngambil bahan dapur di kamar 4A itu, aku gak sengaja
nemuin sapu tangan ini, kira-kira ini punya siapa ya kalian tau gak?” tanya
rina sambil menunjukan sapu tangan itu.
“Aku kok kaya pernah liat sapu tangan
itu ada di kamar ini iya” ucap melka yaitu teman sekamarnya rina. Melka lalu
mendekati rina dan mengamati sapu tangan itu, “Di sini ada tulisan kecil tertera
nama ZR, cuman dua huruf aja teman-teman” ucap melka. Lalu tiba-tiba zila
datang, begitu masuk melihat sapu tangan itu di tangan melka, zila langsung
mengambilnya, “Dimana kamu mendapatkan ini?” tanya zila dengan ekspresi
muka yang terlihat gak suka karena sapu tanganya di pegang melka. “Rina
yang nemuin sapu tangan itu di kamar penyimpanan bahan dapur, itu punya kamu?”
tanya melka. “Iya” jawab zila dengan singkat. “Kok bisa ya sampai kamar 4A” ucap
melka bertanya-tanya. “Ya bisa lah dia tadi piket masak sama kayak aku terus aku
sama dia di suruh mbak mala ngambil minyak goreng sama beras, mungkin pas dia
ngambil beras terus sapu tangannya jatuh kali” jawab rina sambil bedakan di
depan kaca. Dan tiba-tiba, “Teman-teman tau gak sih aku barusan habis dari kantor
pengurus ponpes” ucap siti dengan nada yang terlihat gembira di tambah nafasnya
yang terengah-engah karena lari.
“OMG siti ngagetin aja deh lihat nihh celak ku
jadi kecoret sampai di sebelah mata niihhh, iihhhh sitiiiiii bikes deh” ucap
siti sambil manyun. “Hehehe maaf-maaf sahabatku yang cantik habisnya aku terlalu
bahagia banget” rayu siti sambil mendekati rina. “Emangnya ada apa sihh, gak
biasa-biasanya kamu sebahagia ini sit” tanya rina sambil fokus ke depan
kaca yang sejak tadi sibuk dengan mukanya. “Aku bisa ikut lomba pidato bahasa
inggris bulan depan” jawab siti dengan hati yang gembira. “Waahhhh selamat ya
sit, berarti Allah sudah ngasih kesempatan buat kamu supaya kamu bisa
mengembangkan kemampuan bahasa inggris mu” jawab rina dengan gembira begitu pun
dengan yang lainnya yang ikut serta bahagia mendengar berita itu kecuali zila
yang tampak biasa-biasa saja mendengar itu, yah maklum mungkin karena zila tak
sebegitu akrab dengan siti jadi berita itu tak seberapa berpengaruh buat
zila, zila hanya terdiam dan sibuk menata bajunya di almari.
“Rinaa..., di tunggu ayah ibu mu di
depan” ucap kak mala salah satu senior dari ponpes THORIQOTUN NAJAH. “Iya kakak
cantikkkk trimaksih infonya” triak rina langsung bergegas menuju ruang tunggu
untuk orang tua santri. “Hhmmm rina bahagianya gak ketulungan kalau dengar orang
tua nya datang” ucap melka sambil geleng-geleng. “Perasaan kita semua seperti
itu deh kayak ada rasa bahagia yang sulit di utarakan gitu kalau ketemu orang
tua itu” ucap siti. “Iya benar juga sihh hehehe aku juga seperti itu tapi gak seheboh kayak rina gitu” jawab melka. “Kayak kalian gak tau rina aja dia kan
anaknya suka mengekspresikan apa yang dia rasa dengan cara membuat heboh di
kamar”. “Hahaha iya betul itu” jawab melka sambil ketawa. Lalu satu persatu
mereka semua keluar kamar untuk menemui orang tuanya, begitupun dengan siti
yang juga sangat bahagia dan gak sabar untuk memberitahu orang tuanya.
“Assalamualaikum, Ayah, Ibu, lama ya nungguin siti” jawab siti sambil mencium
tangan kedua orang tuanya“. "Enggak kok nak, ayah sama ibu baru aja sampai” jawab
ayah siti sambil mencium kening putrinya itu. Ada rindu yang terpancar dari
mereka terutama sang ayah yang tak bisa mengantar siti saat pertama kali ke
pondok di karenakan tugas mulia sang ayah yang memaksanya tidak bisa mengantar
putrinya untuk ke pondok. "Ayah, aku rindu sama ayah, sejak kapan ayah pulang ke
jawa?” tanya siti yang memeluk ayahnya sambil meneteskan air mata. “Ayah juga
rindu sama kamu nak, ayah balik dari papua 4 hari yang lalu, sebenarnya ayah
ingin membawamu pulang sebentar tapi kata ibumu kamu gak boleh pulang kalau gak
ada kepentingan yang sangat mendesak” ucap ayah sambil mengusap air mata siti.
“Iya nak, gimana kabarmu sayang” tanya ibu sambil mengelus-ngelus kepala siti.
“Allhamdulillah baik bu, ayah sama ibu gimana kabarnya” tanya siti.
“Allhamdulillah ayah sama ibu baik-baik saja nak, apalagi melihatmu di pondok
belajar mengaji gini, hati ayah semakin tenang” jawab ayah. “Ayah aku pingin
pulang sebentar menghabiskan waktu sama ayah, pasti ayah cuma sebentar pulang ke
jawanya” jawab siti sambil cemberut. “Iya nak, tapi yang pentingkan ayah pulang
meski enam bulan sekali. Gini aja, biar nanti habis ini ayah coba ke pak Yai ya (pendiri
ponpes), siapa tau dibolehin pulang sebentar”. “Iya yahh” jawab siti dengan
tersenyum.
Mereka pun berbincang-bincang lumayan lama, lalu ayah dan ibu siti
pergi ndalem (rumah pendiri ponpes) untuk minta mengijinkan siti agar diperbolehkan
pulang untuk beberapa hari. Setelah 1 jam mereka berbincang-bincang dengan pak Yai, akhirnya siti diperbolehkankan pulang selama 3 hari, siti sangat bahagia
di hari itu, seakan-akan kesabaran nya selama ini terbalas dengan semua
kebahagian semua ini, maklumlah karena ayah siti beprofesi sebagai TNI dan di
tugaskan di papua sehingga membuat siti serta ibu dan adik-adiknya jauh dari ayahnya.
Sitipun langsung bergegas ke
kamarnya untuk mengambil beberapa bajunya dan pamit ke teman-temannya. “Daaaa…siti, happy holiday ya, jangan lupa cepat balik ke pondok loh ya, jangan
lama-lama nanti kita kangen” ucap kak risa sambil tersenyum ke siti. “Iya sit,
jangan lupain kita” sahut rina. “Terima kasih kak (siti tersenyum bahagia). Iya
rina tenang aja hehhee, ya sudah aku pamit dulu ya, assalamualaikum” ucap siti
lalu pergi dari kamarnya dengan membawa tas yang berisi cuma beberapa bajunya.
Rina yang sudah di jenguk ayah ibunya terlebih dahulu sudah balik duluan ke
kamar, “Ayo teman-teman kita makan bareng yukk ibuku tadi bawain nasi padang
lumayan banyak buat kita” ucap rina sambil membuka bingkisan dari ibunya.
“Waahhhh yesss, berarti hari ini kita makan sama daging nihh” jawab melka. “Wah
enak tu kayaknya” sahut kak risa tersenyum melihat rina. “Iya kak kita makan
yukk” ucap rina. “Apa gak sebaiknya kita nunggu teman-teman yang lain balik
semua rin? Soalnya kan masih banyak yang keluar” ucap kak risa. “Iya rin, betul
kak risa, rasanya gak seru kalau kita makan cuma bertiga, lebih enak sama-sama”
sahut melka. “Iya juga ya, ya udah kita nunggu teman-teman balik semua aja deh”
jawab rina. Lalu mereka tiduran di kasur sambil mengobrol dan becanda bareng.
Di
sisi lain, nuril yang juga sedang bersama abinya lebih memilih menghabiskan
waktu di luar untuk menjenguk makam uminya, serta lanjut jalan-jalan di taman
kota, yah seperti itulah aktivitas santri di hari minggu, ada sebagian mereka
menghabiskan waktu di luar untuk sekedar makan enak hingga batas waktu sore
hari, ada juga yang menghabiskan waktu di pondok untuk mengobrol bersama orang
tua mereka dan kebanyakan di hari minggu kamar mereka di banjiri dengan segala
macam makanan dan minuman pemberian dari orang tua mereka.
“Kak, siti ada di
kamarnya gak?” tanya nuril kepada kak risa yang saat itu mereka berpapasan di
tempat cucian piring. “Siti pulang” jawab kak risa dengan mengeluarkan air mata.
“Ngomong apa sih kak” tanya nuril kebingungan. Lalu kak risa menunjukan ke arah
kamar, seolah memberi kode bahwa siti di kamar, nuril pun langsung faham dan
langsung ke kamar siti. “Assalamualaikum, siti mana?” tanya nuril yang juga
terkejut melihat teman-teman sekamarnya siti pada mengeluarkan air mata sambil
memakan sesuatu. “Sini ikut gabung sama kita, mantap banget ril cobain deh”
ucap rina sambil kepedesan memakan potongan mangga muda yang di campur dengan
irisan cabe kecil-kecil. “Apaan itu aku cobain ya” tanya nuril penasaran. “Iya
sini, sini duduk di sini, ayo kita makan sama-sama” ucap melka. Lalu nuril pun
ikut bergabung bersama mereka, “Ya Allah pedes banget nihh mangga muda” ucap
nuril sambil kepedesan. “Iya mangkanya kak risa selesai duluan karena gak kuat
pedasnya sampai nangis-nangis dia” ucap rina. Nuril pun asyik menikmati makanan
yang mereka makan sampai lupa bahwa awalnya ke kamar 3A untuk mencari
siti. Seperti itulah kehidupan di pondok paling suka makan bersama, apalagi
dengan makanan pedas sampai yang gak suka pedas pun kalau sudah masuk pondok
ikut-ikutan jadi suka makan pedas meskipun harus nguat-nguatin rasa pedasnya
hihihi…
Bersambung..., 😀.

Website paling ternama dan paling terpercaya di Asia
BalasHapusSistem pelayanan 24 Jam Non-Stop bersama dengan CS Berpengalaman respon tercepat
Memiliki 9 Jenis game yang sangat digemari oleh seluruh peminat poker / domino
Link Alternatif :
arena-domino.club
arena-domino.vip
100% Memuaskan ^-^